Ulasan The Shape of Water: Simbolisme dalam Kisah Si Ikan dan Si Bisu

Artikel ini dikirim oleh Lazuardi Pratama

Pergelaran Oscar ke-90 minggu lalu meninggalkan kegemilangan untuk The Shape of Water. Dari komposisi musik, desain produksi, hingga sutradara dan film terpuji berhasil ia raih. Bukan hal mengherankan sebab The Shape of Water memang diunggulkan banyak orang sejak dinominasikan akhir tahun lalu.

Adalah orang penuh imajinasi bernama Guillermo del Toro di balik film ini. Del Toro sudah lama dikenal sebagai sutradara spesialis film monster. Filmografinya diisi oleh film-film seperti Pan’s Labyrinth (2006), Hellboy (2004), hingga Pasific Rim (2013). Semuanya berisi makhluk-makhluk imajinatif di luar akal sehat. Kali ini, ia membuat The Shape of Water (2017) dengan manusia ikan sebagai monsternya.

Foto-1

The Shape of Water mengambil kisah di tahun 1960-an. Saat itu, perang dingin antara Amerika dan Uni Soviet sedang panas-panasnya. Keduanya berlomba tidak hanya lewat militer, tapi juga keunggulan teknologi. Maka muncullah sebuah laboratorium di Baltimore, Amerika, yang menampung sejumlah percobaan, salah satunya manusia ikan yang diangkut dari pedalaman hutan Amazon.

Sementara itu, di tempat yang sama bekerja pula Elisa Esposito (Sally Hawkins) dan temannya Zelda Fuller (Octavia Spencer) sebagai cleaning service. Elisa yang tuna runggu kesulitan berkomunikasi dan selalu dianggap sebelah mata. Suatu ketika, ia bertemu dengan si manusia ikan dan mulai menjalin hubungan unik.

Surat Cinta untuk Sinema

foto-2

The Shape of Water merupakan sebuah surat cinta untuk sinema, terutama film-film klasik Hollywood. Ia penuh dengan penghormatan atas film-film terdahulu. Elisa dan teman indekosnya, Giles (Richard Jenkins) gemar menonton film di televisi, di antaranya Little Colonel (1935), Conny Island (1943), hingga The Night in Rio (1941).

The Shape of Water tidak hanya menampilkan film-film lama sebagai objek dalam film, tapi juga mengadaptasi spirit-nya ke dalam elemen bercerita. Ambil saja adegan musikal hitam-putih ketika Elisa bernyanyi untuk si manusia ikan, yang terinspirasi dari film Follow the Fleet (1936), baik koreografi dansa hingga propertinya. Munculnya adegan musikal hitam-putih di tengah film ini mengejutkan, tetapi langkah berani itu ternyata malah membuat film ini semakin powerful.

foto-3

Film-film monster juga ikut menjadi inspirasi, terutama Creature from The Black Lagoon (1954). Manusia ikan di The Shape of Water terinspirasi dari manusia amfibi di Black Lagoon. Del Toro sendiri mengatakan punya kenangan liar terhadap film klasik tersebut. Dalam bayangan del Toro ketika menontonnya saat berumur 6 tahun, film tersebut bisa saja menjadi roman antara manusia amfibi dan protagonis wanita seandainya tidak ditembak mati.

Film-film klasik seperti King Kong (1933) dan The Black Lagoon menceritakan monster sebagai makhluk jahat yang harus diberantas. Dalam hubungan tiga karakter: protagonis laki-laki manusia, protagonis wanita, dan antagonis monster, monster selalu kalah dan protagonis laki-laki selalu berhasil mendapatkan wanitanya.

foto-4

Guillermo del Toro mendobrak kebiasaan tersebut lewat The Shape of Water. Dalam film ini, si manusia ikan alias si monster tidaklah jahat, yang jahat adalah manusia, seperti yang direpresentasikan lewat karakter Richard Strickland (Michael Shannon). Strickland rasis, seksis, dan kasar, diumpamakan sebagai pernyataan bahwa monster sebenarnya ada dalam tubuh manusia itu sendiri.

Maka, The Shape of Water ini boleh dibilang semacam interpretasi ulang dari del Toro untuk Black Lagoon. Selain Black Lagoon, kisah cinta unik antara Elisa dan si manusia ikan juga terinspirasi dari Beauty and The Beast dengan Strickland sebagai Gaston. Bedanya, tokoh Belle digambarkan lebih membumi agar bisa relate dengan banyak orang.

Elisa jadi lebih mirip Cinderella, seorang putri tertindas yang berbudi baik, namun bisu. Princess without a voice.

foto-5

Kebisuan Elisa ini pun bukan hanya sekadar upaya untuk mendulang simpati, tapi juga berbicara tentang kaum marginal. Selain Elisa yang tuna runggu, ada pula Giles teman indekosnya yang seorang gay dan rekan kerjanya Zelda yang seorang kulit hitam. Ketiganya merupakan kaum tertindas. Apalagi, film ini berlatar tahun 1960-an di mana orang Amerika mayoritas memandang minoritas sebelah mata.

The Shape of Water tidak menyampaikan pesan-pesan tentang kaum marginal di atas secara terbuka dan provokatif, melainkan tersembunyi di bawah permukaan. Salah satu caranya, ya lewat karakterisasi para protagonis tadi.

Simbolisme Si Bisu dan Si Manusia Ikan

foto-6

Di atas permukaan, The Shape of Water adalah film monster dengan kisah percintaan dua makhluk yang unik dan imajinatif, ditambah latar tahun 60-an dengan bumbu-bumbu Perang Dingin. Namun jika dilihat lebih dalam lagi, ia berisi banyak simbol-simbol yang ternyata berbicara lebih banyak.

Salah satunya yang paling menarik, dan digunakan secara konsisten sepanjang film adalah warna.

Sejak awal, The Shape of Water banyak menggunakan warna hijau (dan variannya seperti teal dan zamrud) sebagai warna primer. Kamar indekos Eliza berwarna hijau, begitu juga dengan laboratorium tempat ia bekerja.

foto-7

Giles bahkan disuruh oleh mantan bosnya untuk mengganti warna tema dalam lukisannya dari kemerahan menjadi hijau, hanya karena hijau adalah warna “masa depan”. Warna hijau dalam film ini berarti konformitas, alias kebiasaan untuk mengikuti norma sosial yang berlaku.

Seragam cleaning service yang dipakai Elisa dan Zelda juga berwarna hijau, menunjukkan simbol bahwa cleaning service adalah pekerjaan yang ditakdirkan untuk wanita, bukan menjadi ilmuwan yang umum berpakaian putih.

Lukisan warna hijau, yang disuruh oleh mantan bos Giles bukan hanya soal kata “masa depan”, tapi juga tentang warna umum masyarakat Amerika mulai saat itu. Ia juga mengandung makna tersembunyi bahwa mantan bosnya menolak Giles karena ia seorang gay lewat “pemintaan” untuk berganti ke warna hijau (norma sosial).

Selain Elisa, Zelda, dan Giles, karakter Strickland juga dipengaruhi oleh simbol warna ini. Ada satu adegan ketika ia membeli mobil di showroom. Sekilas, adegan itu tidak tampak begitu penting, mengingat tidak ada plot yang bergeser karenanya. Namun, adegan itu esensial karena mobil Cadillac yang dibeli Strickland berwarna teal.

foto-8

Strickland adalah orang yang terobsesi dengan konformitas. Ia melakukan apapun karena ia disuruh dan/atau memang harus berlaku seperti itu, meskipun ia tidak suka melakukannya. Sepanjang kariernya, ia loyal pada seorang jenderal yang menjadi atasannya. Strickland memilih Cadillac warna hijau simply karena ia diberitahu bahwa teal adalah warna masa depan.

Warna hijau yang mewarnai praktis hampir di seluruh latar maupun objek secara keseluruhan menunjukkan bahwa masyarakat mengikuti kaidah, nilai, dan norma sosial yang berlaku, dan masyarakat memang cenderung berlaku seperti itu.

Selain hijau, juga ada warna merah. Berbeda dengan hijau yang jadi warna primer, merah perlahan-lahan diperkenalkan ke dalam film. Elisa mulai berani memakai warna merah ketika hubungannya dengan si manusia ikan semakin intens, dari mulai sepatu, bandana, hingga mantel.

foto-9

Berbeda dengan kamar Elisa yang umum berwarna hijau, warna kamar Giles cenderung cerah kemerahan, pun juga lukisan awal yang diperkenalkan Giles pada mantan bosnya.

Warna merah secara sederhana merepresentasikan cinta. Ia juga menjadi sesuatu yang melawan atau juga sisi lain konformitas tadi. Giles seorang gay, yang dipandang hina oleh masyarakat Amerika waktu itu. Suatu waktu, Giles rela memesan pai berwarna hijau yang tidak enak hanya supaya bisa dekat dengan pelayan yang menyajikannya, yang kemudian mendamprat Giles karena gay. Giles juga anti-kekerasan, dibuktikan dengan keengganannya menonton tayangan yang mempromosikan perang dan lebih suka menonton film-film musikal.

Selain itu, merah ini juga mewakili sinema. Coba lihat pintu masuk bioskop di bawah kamar indekos Elisa dan Giles, warnanya merah darah. Pun juga kursi-kursi bioskop yang merah terang, kontras dengan warna sekitarnya yang hijau.
Sinema dan cinta... rasanya tidak berhubungan terlalu jauh mengingat bagaimana The Shape of Water mengadaptasi spirit sinema musikal klasik yang gembira dan penuh kasih sayang.

foto-10

Banyak sekali simbol-simbol tersembunyi yang menarik untuk ditemukan dalam The Shape of Water. Selain warna contohnya, ada juga simbolisme telur, yang berarti kesuburan. Elisa yang saban pagi bermasturbasi karena ia kesepian, memberi makan si manusia ikan telur.

Kata memberi tersebut miring karena urusan memberi makan itu bukan hanya soal berbagi, tapi juga sebagai semacam seserahan atau sesajen kepada si manusia ikan, yang digambarkan sebagai tuhan bagi suku di Amazon sana. Tindakan Elisa memberi makan si manusia ikan telur juga berarti menyerahkan kesuburannya pada si manusia ikan—yang pada akhirnya ia lakukan juga.

The Shape of Water adalah film yang cantik. Cantik karena ia didasari oleh sebuah kisah cinta yang manis dan didukung oleh sinematografi serta desain produksi ciamik pun juga aransemen musik latar indah. Tidak heran jika dua di antaranya diganjar Oscar.

Akan tetapi, film ini bukan hanya sekadar parade visual dan musik, tapi juga sebuah bukti sejauh mana teknik storytelling dieksplorasi. The Shape of Water memperteguh keyakinan betapa visionernya Guillermo del Toro, si pendongeng ulung.

Author image
Sebelum membangun sastrailmiah.org sebagai rumah baru, Husada pernah membagikan karyanya pada situs kepenulisan seperti kemudian, wattpad, storial, dan lainnya dengan menggunakan bermacam nama pena.
Indonesia
top